#navbar-iframe {height:0px; visibility: hidden; display: none;}
  • My Boss
  • Sabtu, 01 Februari 2014

    Ungkapan idiomatik :
    1.      猫に小判  => Neko ni koban
    Harfiah: koin emas untuk kucing.
    Arti: Memberikan sesuatu yang bernilai kepada penerima yang tidak menghargainya.
    2.      七転び八起き=> Nana korobi ya oki
    Harfiah: jatuh tujuh, bangun delapan.
    Arti: Jika pada awalnya tidak berhasil, coba, coba lagi.

    3.      猿も木から落ちる => Saru mo Ki kara Ochiru
    Secara harfiah: Bahkan monyet pun jatuh dari pohon
    Artinya: Setiap orang bisa membuat kesalahan (Juga digunakan untuk memberi peringatan bahwa kebanggaan datang sebelum keruntuhan)
    ==================================
    Empat karakter idiom :
    1.      十人十色 => Jūnin toiro
    Harfiah: sepuluh orang, sepuluh warna
    Arti: Untuk masing-/ nya sendiri. / Garis kehidupan (nasib) berbeda-beda untuk setiap orang.
    2.      => Akuin akka
    Harfiah: jahat penyebab, efek jahat / buruk menyebabkan hasil yang buruk pula
    Arti: Kejahatan akan menuai kejahatan. / Kau menuai apa yang kau tanam (menekankan ide tentang karma pembalasan).
    3.      弱肉強食 => Jaku niku kyō shoku
    Harfiah: lemah, daging; kuat, makan
    Arti: Yang terkuat dialah yang akan bertahan
    ==================================
    Apa hubungannya peribahasa suatu bangsa terhadap karakter, budaya dan nilai moral mereka?
    Tentu saja ada. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari beberapa kotowaza peribahasa yang dimiliki oleh bangsa Jepang. Beberapa di antaranya:
    1. 人を見たら泥棒と思え => Hito wo mitara dorobou to omoe = Saat melihat orang asing, berpikirlah kau sedang melihat seorang pencuri. (Jangan percaya dengan orang asing/yang tidak kau kenal).
    Peribahasa ini mencerminkan kurangnya rasa percaya mereka pada satu sama lainnya, terutama terhadap orang yang belum dikenal.

    2. Tabi no haji wa kakisute = Buang rasa malumu saat dalam perjalanan.
    Maksud dari peribahasa ini adalah "Tidak perlu merasa malu saat kau berada jauh dari rumah”.
    Bagi orang Jepang, sanksi sosial berupa rasa malu adalah salah satu ketakutan terbesar mereka. Itulah mengapa orang Jepang bisa berperilaku lebh bebas saat mereka berada di luar negeri daripada di Jepang sendiri. Kenyataan ini dapat terlihat dari perilaku bangsa Jepang saat menjajah Indonesia dahulu. Mereka yang sangat kejam, penyiksa dan pembunuh di negeri orang dapat kembali menjadi ‘orang biasa’ saat mereka kembali kembali ke negerinya. 

    3. Ko wo suteru yabu aredo, oya wo suteru yabu nashi = Ada rumpun bambu di mana kamu bisa membuang anakmu sendiri, tapi tidak ada untuk membuang orang tuamu.
    Maksud dari peribahasa ini adalah kewajiban terhadap orang tua jauh lebih besar daripada kewajiban pada anak. Peribahasa ini berasal dari praktek buang anak yang pernah menjadi trend di Jepang dulu!

    4. 生き恥かくより、死ぬがまし => Iki hajikaku yori, shinu ga mashi = Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.
    Orang Jepang memiliki budaya malu yang sangat besar, oleh karena itu lahirlah gerakan HARAKIRI.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar