Ungkapan idiomatik :
1.
猫に小判 => Neko ni koban
Harfiah: koin emas untuk kucing.
Arti: Memberikan sesuatu yang bernilai kepada penerima
yang tidak menghargainya.
2.
七転び八起き=> Nana korobi ya oki
Harfiah: jatuh tujuh, bangun delapan.
Arti: Jika pada awalnya tidak berhasil, coba, coba lagi.
3.
猿も木から落ちる => Saru mo Ki kara
Ochiru
Secara harfiah: Bahkan monyet pun jatuh dari pohon
Artinya: Setiap orang bisa membuat kesalahan (Juga
digunakan untuk memberi peringatan bahwa kebanggaan datang sebelum keruntuhan)
==================================
Empat karakter idiom :
1.
十人十色 => Jūnin toiro
Harfiah: sepuluh orang, sepuluh warna
Arti: Untuk masing-/ nya sendiri. / Garis kehidupan
(nasib) berbeda-beda untuk setiap orang.
2.
悪 因 悪 果 => Akuin akka
Harfiah: jahat penyebab, efek jahat / buruk menyebabkan
hasil yang buruk pula
Arti: Kejahatan akan menuai kejahatan. / Kau menuai apa
yang kau tanam (menekankan ide tentang karma pembalasan).
3.
弱肉強食 => Jaku niku
kyō shoku
Harfiah: lemah, daging; kuat, makan
Arti: Yang terkuat dialah yang akan bertahan
==================================
Apa hubungannya peribahasa suatu bangsa terhadap
karakter, budaya dan nilai moral mereka?
Tentu saja ada. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari
beberapa kotowaza peribahasa yang dimiliki oleh bangsa Jepang. Beberapa di
antaranya:
1. 人を見たら泥棒と思え => Hito wo mitara dorobou to omoe = Saat melihat orang asing,
berpikirlah kau sedang melihat seorang pencuri. (Jangan percaya dengan orang
asing/yang tidak kau kenal).
Peribahasa ini mencerminkan kurangnya rasa percaya mereka
pada satu sama lainnya, terutama terhadap orang yang belum dikenal.
2. Tabi no haji wa kakisute = Buang rasa malumu saat
dalam perjalanan.
Maksud dari peribahasa ini adalah "Tidak perlu merasa
malu saat kau berada jauh dari rumah”.
Bagi orang Jepang, sanksi sosial berupa rasa malu adalah
salah satu ketakutan terbesar mereka. Itulah mengapa orang Jepang bisa
berperilaku lebh bebas saat mereka berada di luar negeri daripada di Jepang
sendiri. Kenyataan ini dapat terlihat dari perilaku bangsa Jepang saat menjajah
Indonesia dahulu. Mereka yang sangat kejam, penyiksa dan pembunuh di negeri
orang dapat kembali menjadi ‘orang biasa’ saat mereka kembali kembali ke
negerinya.
3. Ko wo suteru yabu aredo, oya wo suteru yabu nashi = Ada
rumpun bambu di mana kamu bisa membuang anakmu sendiri, tapi tidak ada untuk
membuang orang tuamu.
Maksud dari peribahasa ini adalah kewajiban terhadap
orang tua jauh lebih besar daripada kewajiban pada anak. Peribahasa ini berasal
dari praktek buang anak yang pernah menjadi trend di Jepang dulu!
4. 生き恥かくより、死ぬがまし => Iki hajikaku yori, shinu ga mashi = Lebih baik
mati daripada hidup menanggung malu.
Orang Jepang memiliki
budaya malu yang sangat besar, oleh karena itu lahirlah gerakan HARAKIRI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar